Tinjauan Mendalam tentang Teori-Teori dalam Kriminologi: Memahami Akar Penyebab Kejahatan

Kriminologi sebagai ilmu yang mempelajari asal mula dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejahatan telah menghasilkan sejumlah teori yang berbeda.

Dalam artikel ini, kami akan mengulas secara mendalam empat teori utama dalam kriminologi: Teori Differential Association, Teori Anomie, Teori Kontrol Sosial, dan Teori Labelling. Dengan memahami teori-teori ini, kita dapat mendapatkan wawasan yang lebih baik tentang kompleksitas perilaku kriminal.

Teori-Teori dalam Kriminologi

  1. Teori Differential Association: Mengungkap Pola Pembelajaran dan Interaksi Sosial

Teori Differential Association yang dikemukakan oleh Sutherland menekankan bahwa perilaku kriminal dipelajari melalui interaksi dengan individu lain dalam lingkungan sosial. Melalui proses komunikasi, seseorang belajar teknik-teknik kejahatan, motif, dan alasan di balik perilaku tersebut. Pentingnya kelompok intim dalam proses pembelajaran ini juga ditekankan. Sutherland berpendapat bahwa asosiasi differensial ini bervariasi tergantung pada frekuensi dan intensitasnya. Dia juga menegaskan bahwa tingkah laku kriminal tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh kebutuhan umum dan nilai-nilai, karena tingkah laku nonkriminal juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

  1. Teori Anomie: Menggali Ketidakseimbangan Nilai dan Norma dalam Masyarakat

Teori Anomie, yang diperkenalkan oleh Emile Durkheim, menggambarkan keadaan ketika masyarakat mengalami ketidakseimbangan nilai dan norma. Istilah “anomie” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tanpa hukum.” Teori ini menyatakan bahwa ketika tujuan-tujuan budaya ditekankan tanpa adanya cara yang jelas untuk mencapainya, individu dan kelompok dalam masyarakat tersebut harus menyesuaikan diri. Beberapa bentuk penyesuaian ini bisa berupa perilaku penyimpangan. Teori Anomie menggambarkan bagaimana kelompok-kelompok sosial tertentu, terutama mereka dalam kondisi ketegangan sosial seperti orang-orang kelas bawah, cenderung mengadopsi perilaku penyimpangan sebagai respons terhadap ketidakseimbangan tersebut.

  1. Teori Kontrol Sosial: Menganalisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejahatan

Teori Kontrol Sosial menekankan bahwa kelemahan ikatan individu dengan masyarakat atau kurangnya integrasi sosial dapat menjadi penyebab terjadinya kejahatan. Perspektif ini melihat kejahatan sebagai akibat dari kegagalan kelompok-kelompok sosial konvensional, seperti keluarga, sekolah, dan teman sebaya, dalam mengikat individu. Travis Hirschi, seorang tokoh dalam teori ini, berpendapat bahwa individu tidak secara intrinsik patuh terhadap hukum, tetapi mereka belajar untuk tidak melakukan tindakan kriminal melalui ikatan sosial yang kuat dengan kelompok-kelompok tersebut. Faktor-faktor seperti ikatan emosional (attachment), keterlibatan (involvement), komitmen (commitment), dan keyakinan (belief) dalam norma-norma yang baik dan adil dalam masyarakat dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi perilaku kriminal.

  1. Teori Labelling: Mengungkap Dampak Stigma dan Labelisasi Terhadap Kejahatan

Teori Labelling memfokuskan perhatiannya pada proses penempelan label atau stigma terhadap individu dan dampaknya terhadap perilaku selanjutnya. Teori ini sering menggunakan metode self-report atau wawancara dengan pelaku kejahatan yang tidak tertangkap oleh polisi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam. Seorang pendukung teori labelling awal, Frank Tannembaum, berpendapat bahwa kejahatan tidak hanya merupakan hasil ketidakmampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kelompok, tetapi juga merupakan hasil dari tekanan yang diberikan oleh masyarakat. Dalam teori ini, perhatian diberikan pada proses sosial di mana individu diberi label sebagai pelaku kejahatan oleh lembaga-lembaga sosial seperti polisi, pengadilan, dan masyarakat umum. Label tersebut dapat menciptakan stigmatisasi dan mengarah pada perilaku yang sesuai dengan label yang ditempelkan. Misalnya, seseorang yang diberi label sebagai penjahat mungkin merasa terasing dan akhirnya mengadopsi perilaku yang sesuai dengan label tersebut.

Empat teori kriminologi yang telah kita bahas di atas memberikan wawasan yang berbeda tentang akar penyebab kejahatan. Teori Differential Association menyoroti peran pembelajaran sosial dalam perilaku kriminal, Teori Anomie menekankan ketidakseimbangan nilai dan norma dalam masyarakat, Teori Kontrol Sosial memperhatikan faktor-faktor pengendalian sosial yang mempengaruhi perilaku kriminal, dan Teori Labelling menyoroti efek stigma dan labelisasi terhadap perilaku kejahatan.

Penting untuk diingat bahwa kejahatan adalah masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor sosial, ekonomi, psikologis, dan budaya. Teori-teori dalam kriminologi membantu kita memahami beberapa dimensi dari kejahatan, tetapi tidak ada satu teori tunggal yang dapat menjelaskan semua bentuk kejahatan. Oleh karena itu, pendekatan yang holistik dan multidisiplin diperlukan untuk memahami dan mengatasi masalah kejahatan dengan efektif.