Jenis SIM D untuk Pengendara Penyandang Disabilitas, Apa Saja Persyaratannya?

Surat Izin Mengemudi atau SIM di Indonesia memiliki beragam jenis, mulai dari SIM A, B, C, hingga D. Namun, masyarakat mungkin belum terlalu familiar dengan SIM D dan untuk pengendara apa sebenarnya SIM jenis ini diperuntukkan?

SIM adalah dokumen penting yang diberikan oleh kepolisian kepada pengguna kendaraan bermotor sebagai tanda registrasi dan identifikasi. Setiap pengguna kendaraan bermotor yang ingin memiliki SIM harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi, kesehatan jasmani serta rohani, mengerti peraturan lalu lintas, dan tentunya mahir dalam mengemudi kendaraan bermotor.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang SIM D, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu jenis-jenis SIM yang berlaku di Indonesia. Ada SIM A, B1, B2, dan C yang masing-masing mengatur penggunaan kendaraan bermotor tertentu.

SIM A digunakan oleh pengemudi mobil penumpang perseorangan dan mobil barang perseorangan dengan berat tidak lebih dari 3.500 Kg. SIM B1 digunakan oleh pengemudi mobil penumpang dan barang perseorangan dengan berat lebih dari 3.500 Kg (bus penumpang atau barang perseorangan). SIM B2 digunakan oleh pengemudi kendaraan alat berat, penarik, atau truk gandeng perseorangan dengan berat kendaraan penarik lebih dari 1.000 Kg. Sedangkan SIM C digunakan oleh pengendara sepeda motor yang terbagi menjadi tiga jenis, yaitu SIM C1 (<250 cc), C2 (>250 cc-500 cc), C3 (> 500 cc).

Lalu, untuk pengendara apa sebenarnya SIM D ditujukan? SIM D adalah surat izin mengemudi yang diperuntukkan bagi pengemudi atau pengendara penyandang disabilitas. Berdasarkan Peraturan Kepolisian No. 5 Tahun 2021, SIM D dibagi menjadi dua klasifikasi, yaitu SIM D dan SIM D1.

Klasifikasi kendaraan SIM D setara dengan SIM C, artinya pengendara sepeda motor, sedangkan SIM D1 setara dengan SIM A, yaitu pengemudi mobil. Namun, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh SIM D, di antaranya adalah berusia minimal 17 tahun, mengikuti proses administrasi, lulus pemeriksaan kesehatan yang mencakup penglihatan, pendengaran, dan fisik, serta lulus uji teori dan praktik berkendara.

Biaya pembuatan atau penerbitan SIM D dan D1 sama, yaitu Rp 50 ribu dan biaya perpanjangannya berkisar pada harga Rp 30 ribu sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2016.

Meski aturan tentang SIM D sudah diatur dalam beberapa peraturan, ada beberapa ambiguitas yang masih terjadi, terutama bagi penyandang difabel tuli atau tuna rungu. Beberapa daerah sudah mengizinkan penyandang difabel tuli atau tuna rungu untuk memiliki SIM D, namun masih ada juga daerah yang belum memberikan izin.

Jadi, untuk kamu yang merupakan pengendara atau pengemudi penyandang disabilitas, SIM D adalah jenis SIM yang cocok untukmu. Namun, kamu harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi dan kesehatan agar bisa memperoleh SIM D. Ingat, keselamatan berkendara adalah yang utama! Semoga informasi ini bermanfaat bagi kamu.