SEJARAH SINGKAT POLAIRUD: Memahami Perjalanan Organisasi Pelindung Laut dan Udara Indonesia

Baca artikel ini untuk memahami sejarah singkat Polisi Perairan dan Udara Republik Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Polairud RI. Dalam artikel ini, Anda akan mengetahui asal-usul dan perkembangan Polairud dari masa ke masa, serta inovasi dan pembaharuan yang telah dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban wilayah laut dan udara Indonesia.

Polisi Perairan dan Udara Republik Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan Polairud RI, merupakan organisasi kepolisian yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban wilayah laut dan udara Indonesia. Namun, sejarah singkat Polairud masih kurang diketahui oleh masyarakat. Mengetahui sejarah Polairud menjadi penting untuk memahami peran penting yang dimainkan oleh organisasi ini dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah laut dan udara Indonesia. Dalam artikel ini, kita akan membahas sejarah singkat Polairud, mulai dari asal-usul hingga perkembangannya dari masa ke masa, serta inovasi dan pembaharuan yang telah dilakukan oleh jajaran Polairud untuk memenuhi tuntutan zaman.

Sejarah Singkat Polairud

Pada zaman Kerajaan Majapahit, Armada perang laut dibentuk sebagai pemegang keamanan di sepanjang alur sungai Brantas dan Pelabuhan Canggu sebagai pelabuhan dalam terbesar pada abad ke-14. Fungsi Polisi Perairan sudah ada sejak zaman Majapahit meskipun masih menjadi bagian Angkatan Laut Kerajaan Majapahit.

Pada masa kolonial Belanda, Polisi Perairan diberi kewenangan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah laut berdasarkan beberapa Staatsblad. Sebelum pecah perang Dunia II, fungsi Polisi Perairan sudah menjalankan tugas kewajibannya sebagai penjaga perairan nusantara dengan berbagai nama seperti Polisi Laut, Polisi Pelabuhan, Polisi Sungai, dan lain sebagainya.

Setelah Indonesia merdeka, pembentukan Polisi Perairan baru bisa dilaksanakan pada tahun 1950 setelah Pemerintah Indonesia mulai menata dan mengatur pemindahan kekuasaan pasca pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949 di Den Haag, Belanda. Pada awal pembentukan, Polair mendapat pinjaman sebuah kapal dari Djawatan Pelayaran yang merupakan hasil rampasan perang. Selain itu, Polair mendapat bantuan dari Direktur Pelabuhan Tanjung Priok, untuk membuat sebuah pangkalan kapal Polair.

Setelah terbentuknya Kepolisian Perairan, pemerintah mulai berpikir bahwa perlunya ada Polisi Udara untuk mendukung pelaksanaan tugas Polair dan menjaga keamanan dan ketertiban udara mengingat kesulitan-kesulitan yang sering timbul dikarenakan kondisi geografis wilayah Nusantara. Seksi Udara dibentuk pada akhir tahun 1955 dengan menunjuk Komisaris Polisi Drs. Harsono sebagai Kepala Seksi Polisi Udara.

Dalam masa reformasi, banyak terobosan dan pembaharuan yang dilakukan jajaran Polairud. Diantaranya, kewenangan penyidikan, pemberian Brevet Bhayangkara Bahari, Brevet Penerbang Polri, Brevet Komando, Brevet Penyelam, serta melakukan perubahan warna pada kapal Patroli.

Dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah laut dan udara Indonesia, Polairud telah melakukan banyak inovasi dan pembaharuan untuk memenuhi tuntutan zaman. Sejarah singkat Polairud ini menjadi penting untuk dipahami dan dihargai oleh masyarakat Indonesia.