Peran Penting Petugas DVI dalam Mengidentifikasi Korban Bencana

Artikel ini menjelaskan tentang peran penting petugas Disaster Victim Identification (DVI) dalam mengidentifikasi korban bencana atau kecelakaan yang kondisi jasadnya tidak utuh lagi. Dalam artikel ini dijelaskan tahapan DVI dalam proses identifikasi korban, metode identifikasi yang digunakan, serta keunggulan dan risiko dari metode DNA Profiling. Artikel ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya prosedur identifikasi korban bencana dan peran penting petugas DVI dalam proses tersebut.

Setiap bencana atau kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa akan meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan kerabat korban. Namun, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada korban, identifikasi korban menjadi hal yang sangat penting. Inilah saatnya peran petugas Disaster Victim Identification (DVI) menjadi sangat vital.

DVI adalah prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi korban kecelakaan secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Prosedur ini mengacu pada standar baku interpol. Pada saat ini, DVI memainkan peran penting dalam mengidentifikasi korban pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menjadi korban kecelakaan.

Tahapan DVI

Petugas DVI menjalankan lima tahap dalam penyelidikan identifikasi korban. Setiap tahap saling terkait, yaitu:

  1. The Scene: Petugas DVI akan melakukan pengumpulan informasi di lokasi kejadian untuk menemukan petunjuk tentang identitas korban.
  2. The Mortuary: Korban akan dibawa ke tempat yang disebut mortuary atau ruang jenazah untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut.
  3. Ante Mortem Information Retrieval: Petugas DVI akan mencari informasi tentang korban sebelum kematian, seperti catatan kesehatan gigi, sidik jari, dan data DNA.
  4. Reconciliation: Informasi tentang korban akan dibandingkan untuk menentukan kecocokan antara Ante Mortem dan Post Mortem.
  5. Debriefing: Setelah identifikasi selesai, petugas DVI akan memberikan laporan identifikasi kepada keluarga korban.

Metode Identifikasi Korban

Dalam menjalankan tugasnya, petugas DVI menggunakan berbagai metode dan teknik untuk mengidentifikasi korban. Identifikasi primer (utama) yang meliputi sidik jari, catatan kesehatan gigi, dan DNA dianggap sebagai metode identifikasi yang paling akurat. Sedangkan identifikasi sekunder (pendukung) meliputi catatan medik, properti, dan photographi.

Metode identifikasi yang paling muktahir saat ini adalah DNA Profiling. Metode ini memiliki banyak keunggulan, tetapi memerlukan pengetahuan dan sarana yang canggih, serta biaya yang mahal. DNA Profiling adalah metode identifikasi yang mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi, menghimpun, dan menginventarisir data-data khas karakter tubuh.

Sampel tes DNA dapat diambil dari hampir semua bagian tubuh, seperti darah, rambut, dan kuku. Tes DNA memiliki tingkat kebenaran yang hampir 100 persen akurat. Meskipun demikian, kesalahan dalam tes DNA bisa saja terjadi, tetapi risikonya sangat kecil, yakni satu di antara sejuta.

Prosedur identifikasi korban bencana menjadi sangat penting untuk mengetahui identitas korban dan memberikan penghormatan terakhir kepada mereka. Petugas DVI memainkan peran penting dalam proses identifikasi korban. Dalam menjalankan tugasnya, petugas DVI menggunakan berbagai metode dan teknik identifikasi, seperti sidik jari, catatan kesehatan gigi, dan DNA Profiling. Metode identifikasi terakhir ini dianggap sebagai metode paling akurat dan canggih saat ini. Meskipun demikian, kesalahan dalam tes DNA bisa saja terjadi, tetapi risikonya sangat kecil. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman tentang peran penting petugas DVI dalam mengidentifikasi korban bencana.